Sabtu, 20 Apr 2024
  • Selamat Datang di Website SMA YP UNILA Bandar Lampung

Revolusi Pendidikan Karakter dalam Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Revolusi Pendidikan Karakter dalam Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Pendidikan merupakan instrumen penting bagi kemajuan bagi suatu bangsa. Pendidikan menjadi harapan perbaikan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi umat manusia itu sendiri. Dengan bekal tersebut tentu akan berdampak pada kesadaran sosial yang nantinya akan membawa perbaikan masif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dinamika perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia berulang kali seringkali menjadi polemik yang dianggap sebagai produk atau kebijakan baru yang muncul ketika pemimpin atau menterinya baru. Padahal perubahan kurikulum memang sangat diperlukan karena pendidikan memang harus dinamis, bergerak seiring dengan perkembangan zaman. Sebagai konstruksi kurikulum seyogyanya didesain dalam kurun waktu jangka panjang dan berkesinambungan, dan menjawab tantangan perkembangan zaman (Achruh, A, 2019; Elisa, E., 2018).

Perubahan kurikulum merdeka juga menimbulkan pandangan skeptis dari banyak kalangan, tidak sedikit dari kalangan pelaksana teknis yaitu guru. Tentunya guru memiliki anggapan yang beragam yang sebenarnya apabila ditarik benang merah guru memerlukan “waktu” untuk memahami secara mendalam baik secara filosofi dan implementasi kurikulum merdeka.

Kurikulum merdeka menitikberatkan pada pengembangan kepribadian siswa sesuai dengan profil siswa Pancasila. Program Profil Pelajar Pancasila berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara keseluruhan, termasuk kemampuan komputasi, literasi, dan karakter. Pada pelaksanaan profil pelajar Pancasila terdapat enam dimensi yang perlu diintegrasikan dalam kegiatan intrakurikuler termasuk pada setiap mata pelajaran. Keenam dimensi tersebut adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif (Nur’Inayah, 2021).

Pendidikan karakter sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam proses pendidikan kita, karena esensi pendidikan itu sendiri adalah pengembangan karakter peserta didik. Namun terdapat keunikan yang dapat kita soroti dan kita kembangkan dalam proses pembelajaran apabila kita menganalisis dari pendidikan karakter dalam kurikulum sebelumnya.

Kurikulum 2013 yang merupakan kurikulum sebelum kurikulum merdeka turut berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Pengembangan karakter tersebut ditunjukkan melalui berbagai program, salah satunya yaitu pengintegrasian antara mata pelajaran dengan jenjang pendidikan, serta pemerhatian dan penilaian terhadap aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik (Sholekah, 2020). Berbagai nilai karakter dikembangkan serta diimplementasikan kepada peserta didik, pengimplimentasian tersebut melalui dua sikap yaitu sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap spiritual adalah sikap yang harus dimiliki peserta didik untuk selalu taat menjalankan ajaran agama, sedangkan sikap sosial yang harus dimiliki peserta didik adalah perilaku jujur, tanggung jawab, santun, disiplin, percaya diri, dan peduli lingkungan.

Tentu, pendidikan karakter di kurikulum merdeka memiliki perbedaan lain jika dibandingkan dengan kurikulum 2013. Pola penguatan pendidikan karakter tidak lagi menggunakan hal seringkali digunakan pada pendidikan formal, seperti pembiasaan, keteladanan, dan tekanan yang masih berorientasi pada teori-teori tetapi pada kurikulum merdeka, penguatan profil pelajar Pancasila diinternalisasi dengan aksi nyata yang dilakukan peserta didik secara langsung malalui kegiatan proyek.  Tujuan profil pelajar pancasila tidak akan tercapai jika hanya dilaksanakan dalam program intrakurikuler saja. Pendidikan karakter dilakukan di sekolah melalui pengintegrasian nilai-nilai karakter ke berbagai aspek mata pelajaran, kegiatan pembelajaran, muatan lokal, budaya sekolah, dan ekstra kurikuler.

Pembelajaran proyek ini penting karena siswa berkesempatan mendapatkan pengalaman langsung dan belajar melalui pengalaman tersebut, keterampilan dan kompetensi dasar yang dipelajari siswa dari berbagai disiplin ilmu diintegrasikan, dan struktur belajar yang lebih merdeka dan fleksibel (Suryadien dkk., 2022). Hal ini tentu menjadi pola yang baru proses internalisasi nilai-nilai karakter profil pelajar Pancasila yang harus terus dievaluasi pelaksanaanya.

 

Referensi:

Achruh, Andi. “Komponen dan model pengembangan kurikulum.” Jurnal Inspiratif Pendidikan 8.1 (2019): 1-9.

Elisa, Elisa. “Pengertian, peranan, dan fungsi kurikulum.” Jurnal Curere 1.02 (2018).

Nur‘Inayah, N. (2021). Integrasi Dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Menghadapi Era 4.0 di SMK Negeri Tambakboyo. Journal of Education and Learning Sciences1(1), 1-13.

Sholekah, F. F. (2020). Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum 2013. Childhood Education: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini1(1), 1-6.

Gendis Ananda Putri

Tulisan Lainnya

Artikel Guru3
Oleh : smaypunila2022

Artikel Guru3

Artikel 5
Oleh : smaypunila2022

Artikel 5

Artikel Guru
Oleh : smaypunila2022

Artikel Guru

Tips Berlibur ke Objek Wisata Alam
Oleh : Gendis Ananda Putri

Tips Berlibur ke Objek Wisata Alam

0 Komentar

KELUAR